Khawatirmu Tentang Masa Depan

    @edgarhamas

    Jujur saja, sebenarnya apa hal yang lebih membuatmu khawatir dibanding ketakutanmu pada masa depan?

    Itulah yang membuat manusia yang kamu lihat —dan barangkali kita sendiri— belajar mati-matian demi ijazah, katanya agar di ‘hari depan’ diterima di universitas ternama. Sibuk kuliah dan ingin cepat lulus, demi 'masa depan’ yang cerah di perusahaan besar. Kerja lembur bagai kuda dengan misi menciptakan 'masa depan’ karir yang gemilang.

    Kekhawatiran kita akan masa depan itu seperti kita berlari mengejar bayang-bayang kita sendiri. Tak pernah berakhir, dan selalu membuat hati gelisah. Menghidupkan hari ini demi esok hari. Sebuah cara hidup paling menyiksa yang pernah ada. Dibayang-bayangi esok akan jadi apa dan akan makan apa. Cara pandang seperti itulah yang melahirkan hamba dunia.

    Untungnya, kita punya iman. Dengan iman, kita seperti punya obor yang menuntun kita menyusuri hari-hari ke depan yang gelap temaram. Iman membuat kita tahu bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang yakin bahwa segala sesuatu —rizki, cinta dan pencapaian hidup— ada di tangan Allah. Maka mereka tenang, namun tak juga berpaku tangan. Mereka tenteram, tapi justru berkarya makin melesat!

    Perkara rezeki dan karunia di esok hari, Allah bilang padamu dengan terang, “Kamilah yang membagi-bagi penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (Az Zukhruf 32) Semua sudah ada jatahnya, sudah ada pembagian seadil-adilnya.

    Allah tak pinta kita untuk sibuk menghabiskan waktu demi karir. Justru Allah ingin karir kita hidup untuk menyelamatkan waktu kita yang sempit ini; menghidupkannya menjadi ibadah yang bernilai berat di timbangan akhirat.

    Bahkan sejatinya, kerja kita, belajar kita, kegiatan kita, koneksi yang kita bangun, relasi yang kita kumpulkan; hakikatnya bukan untuk mencari penghidupan, tapi untuk bersyukur pada Allah. Unik kan? Kerja bukan demi rezeki, tapi sebagai tanda syukur.

    Tapi memang begitulah aslinya. Dan itulah yang Allah ajarkan pada Nabi Daud dan keluarganya, “Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’ 13)

    Dan kamu pasti tahu, keluarga Nabi Daud justru menjadi keluarga paling kaya sepanjang sejarah manusia. Ia menjadi raja dan anaknya menjadi raja. Bukan sembarang raja.

    Yang kamu khawatirkan tentang masa depanmu, sudah Allah cover.

    Bersyukurlah dengan menjalani hidup yang bermanfaat bagi dakwah dan umat, itulah cara kita mencover waktu menjadi bulir-bulir pahala yang berat di timbangan amal.

    Zikir ertinya INGAT.,

    _________________________________

    Kalau nak ingat Allah kena KENAL

    dulu dengan tuan empunya nama;

    _________________________________

    Kalau sebut nama Allah itu bukan

    ingat kepada TUAN empunya nama,,

    Tetapi ingat kepada huruf-huruf

    dan juga bunyi-bunyian ala ARAB..

    _________________________________

    APAKAH TUHAN ANDA SEMUA ITU

    BERBANGSA ARAB? ANDA PASTI DAN

    YAKIN DENGAN JAWAPAN ANDA?

    JIKA BENAR BEGITU, MAKA TIDAK SALAH

    JIKA TUHAN SAYA BERBANGSA MELAYU.

    Beristirahatlah dengan mengingat Tuhanmu.

    Karena kelelahan pada hati yang tengah dirasakan tak akan hilang dengan tubuh yang terlelap malam ini.

    Terimalah jika tiada cara terbaik untuk memulihkan kembali kondisi hati selain dengan mengingat Sang Pemilik Hati ini.

    Beristirahatlah dengan menyebut namaNya.

    Seberapapun kuat diri bertahan tetaplah akan menjadi sebuah kesia-siaan jika tiada Allah dihadirkan.

    Sadarilah jika hanyalah Allah yang mampu menyelesaikan segala apapun urusan dalam kehidupan yang diperjuangkan.

    Beristirahatlah dengan kepasrahan kepadaNya.

    Semoga esok pagi Dia izinkan semesta memberimu kabar gembira pada hati yang kelelahan atas kesombongannya sendiri.

    Semoga esok pagi juga memberikan jawaban akan berbagai masalah kehidupan—yang semua itu hanya bisa diselesaikan bersama Allah; Sang Pemilik Kehidupan.

    Beristirahatlah dengan mengingat Tuhanmu.

    Karena kelelahan pada hati yang tengah dirasakan tak akan hilang dengan tubuh yang terlelap malam ini.

    Terimalah jika tiada cara terbaik untuk memulihkan kembali kondisi hati selain dengan mengingat Sang Pemilik Hati ini.

    Beristirahatlah dengan menyebut namaNya.

    Seberapapun kuat diri bertahan tetaplah akan menjadi sebuah kesia-siaan jika tiada Allah dihadirkan.

    Sadarilah jika hanyalah Allah yang mampu menyelesaikan segala apapun urusan dalam kehidupan yang diperjuangkan.

    Beristirahatlah dengan kepasrahan kepadaNya.

    Semoga esok pagi Dia izinkan semesta memberimu kabar gembira pada hati yang kelelahan atas kesombongannya sendiri.

    Semoga esok pagi juga memberikan jawaban akan berbagai masalah kehidupan—yang semua itu hanya bisa diselesaikan bersama Allah; Sang Pemilik Kehidupan.

    TITIK

    Apabila,

    Makrifat adalah penyaksian akan Allah,

    Hakikat adalah ikhlas,

    syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,

    Tarikat adalah jalan pengosongan sebelum hakikat,

    Syariat adalah dalil kehidupan dalam menghormati penyaksian lain.

    Maka,

    Syariat adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,

    Tarikat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya,

    Hakikat adalah bagaimana ikhlas,

    syukur dan sabar dalam kehidupan,

    Makrifat adalah puncak kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan ALLAH

    Apabila, Syariat adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,

    Tarikat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat ALLAH.

    Hakikat adalah bagaimana ikhlas,

    syukur dan sabar dalam kehidupan,

    Makrifat adalah puncak kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan ALLAH

    Maka, Makrifat adalah penyaksian akan Allah,

    Hakikat adalah ikhlas,

    syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,

    Tarikat adalah jalan pengosongan sebelum hakikat,

    Syariat adalah dalil kehidupan dalam menghormati penyaksian lain.

    Apabila dan Maka,

    Bersatu dalam Titik,

    Titik itu adalah ALLAH,

    Syariat-Tarikat berawal dari Titik,

    Hakikat-Makrifat berakhir di Titik.

    Billahu, Fillahu, Bi Idznillahu, Minallahu, Allahu, Hu, Titik.

    Darimana datangnya cinta?

    Darimana datangnya cinta? Coba tengadahkan kepalamu. Dari sana dia berasal, dari langit. Dari sang pemilik langit. Yang jika kau tanya asal dari segala cinta maka disanalah jawabannya, Maha cinta pemilik langit dan bumi. Yang mencintaimu dan tak akan mendzalimimu. Meski kau dzalim akan haknya sebagai Maha cinta. Dia yang menjaga lelap tidurmu meski tak ada namanya dalam hembusan nafasmu. Berkali-kali dia menjagamu, melindungi, dan menjauhkanmu dari bahaya. Meski kau tak menyadarinya dan tak tahu diri lantas tidak bersyukur Dia tetap akan menjagamu berkali-kali. Dia mencintaimu, janjinya adalah mengampuni segala dosamu. Sebesar apapun dosamu akan terampuni. Dosa zina? Riba? Bahkan dosa syirik sekali pun akan Dia ampuni. Tidak percaya? Pergi dan baca surah Az-zumar, ayat 53.

    Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang meĀlampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar:53).

    Lihat? Seluas itu cintaNya, padamu.

    Darimana datangnya cinta? Coba buka sirah 1400 tahun yang lalu. Maka akan kau temukan cinta disana. Pada manusia yang mencintaimu dengan sepenuh hatinya, sepenuh debar jantungnya, meski dia belum pernah bertemu denganmu. Manusia pemilik akhlak paling sempurna. Yang jika dia berdoa maka dua gunung akan diguncangkan hebat untuk menghatam orang-orang yang melukai pelipisnya. Tetapi, “Jangan, mereka hanya belum paham saja,” katanya. Manusia paling tampan rupanya, paling mulia perangainya. Yang mendoakan ampunan dan kekekalan surga Tuhannya bagimu, meski tak ada jaminan kau akan patuh menjadi pengikutnya. Ada cinta disana, dalam lirih dia menyebut namamu. “Ummatku… Ummatku… Ummatku.” Padahal Aisyah — istrinya, Fatimah — putri kesayangannya, ada disana. Tetapi atas nama cintanya padamu, namamu lah yang terlafazkan.

    Sedalam itu cintanya, padamu.

    Darimana datangnya cinta? Kau tahu jawabannya.

    andromedanisa

    Allah pasti akan memberi jawaban doa seseorang selama ia tak tergesa-gesa. Lantas para sahabat bertanya, “fa kaifa ya'jal ya Rasulallah?” bagaimanakah yang tergesa-gesa itu??

    Maka Nabi menjawab, “dia yang berkata; aku sudah berdoa, tapi Allah belum juga mengabulkan”. Lalu ia tinggalkan doa.

    Pelajaran terpenting tentang kesabaran dalam berdoa adalah bahwa doa itu punya batas sesuai dengan kadar bobotnya…

    Tengoklah kisah Nabi Zakariya, berapa lama Nabi Zakariya berdoa agar dikarunia anak? 70 tahun lamanya baru Allah mengabulkan doanya. Ini kelasnya Nabi yang dekat dengan Allah, namun apa? Allah kabulkan doa Nabi Zakariya setelah 70 tahun lamanya. Timbul pertanyaan liar dalam pikiran, bagaimana dengan kita?? Yang mana kelasnya tidak sekelas para Nabi yang dekat dengan Allah? Maka jawabnya sederhana, ya sabar saja..

    Ada orang baru berdoa 2 minggu, satu bulan, dua bulan, namun belum jua dikabulkan. Sudah kempes semangatnya dalam berdoa. Sudah malas untuk berdoa, malah ada yang protes, mengapa tak juga dikabulkan.

    Sabar,,. Nikmati prosesnya. Jangan isti'jal dalam berdoa alias tergesa-tergesa..

    Ingatlah kisah Nabi Ayyub, Allah beri ia kenikmatan selama 20 tahun lamanya, dengan kebun kurma, 12 orang anak yang gagah perkasa. Dan jadilah ia raja, orang, nabi terkaya di kaumnya.

    Lalu Allah uji ia, Allah hancurkan semuanya hanya dalam 3 hari. Mudah bagi Allah untuk melakukan itu semua.

    *Hari pertama, Allah beri ia penyakit kusta sampai kaumnya pergi meninggalkannya.

    *Hari kedua, Allah kirimkan badai dan hama yang menghancurkan seluruh kebun dan peternakannya.

    *Hari ketiga, ini adalah hari terberat dalam hidup Nabi Ayyub. Allah wafatkan 12 anaknya dalam sehari tanpa sebab apapun..

    Hanya tinggal istrinya..

    Sampai18 tahun ujian, istrinya berkata, “wahai Nabi Allah, berdoalah pada Tuhanmu agar menghilangkan ujianmu, tidak perlu mengembalikkan semua, cukup agar penyakitmu sembuh.” Apa kata Nabi Ayyub? “Wahai istriku berapa lama Allah beri kita nikmat?” “20 tahun” kata istrinya. “Aku masih malu untuk meminta kepada Allah” itu jawaban Nabi Ayyub kepada sang istri.

    Tepat 20 tahun, Nabi Ayyub berdoa yang mana Allah abadikan dalam surat Al-Anbiya. “Robbi anni massaniyadh dhur, wa anta arhamur rohimin” ya Allah, aku telah ditimpa suatu musibah, sedang Engkau adalah arhamur rohimin.

    Telah sampai batasnya, telah tiba waktunya Allah kabulkan doa Nabi Ayyub. Allah berfirman, “Fastajbna lahu, wa kasyafna bihi min dhur, wa atainahu ahlahu wa mitslahu ma'ah” maka Kami kabulkan doanya, Kami kembalikan keluarganya dan yang semislanya bersamanya.

    Dalam 3 hari pula Allah kembalikan semuanya. *hari pertama, Allah sembuhkan penyakitnya. *hari kedua, Allah jadikan istrinya setiap tahun melahirkan 2 bayi kembar sampai anak Nabi Ayyub berjumlah 24. Allah beri Nabi Ayyun dengan kelipatan :’)

    -Nabi Ya'qub berapa lama ia berdoa agar Allah pertemukan dengan Yusuf ‘alaihissalam? Berpuluh-puluh tahun. Sampai ada yang mengatakan 40 tahun.

    -Nabi Musa, berapa lama ia berdoa kepada Allah untuk kebinasaan fir'aun seperti tersebut dalam surah yunus 88 - 89 ? Berpuluh-puluh tahun.

    -Ibrahim ‘alaihissalam, berapa lama ia berdoa kepada Allah agar dikarunia anak? Berpuluh-puluh tahun.

    Dan Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam berapa lama beliau berdoa kepada Allah agar memindahkan kiblat dari Al-Aqsa ke Al-Haram? Bertahun-tahun lamanya..

    Berhenti sejenak, coba deh direnungkan..

    Tidak sulit bagi Allah untuk mengabulkam doa-doa para Nabi. Namun Allah rupanya sedang ingin metarbiyah para Nabi dalam menghadapi ujian. Ini juga bagian dari pembahasan bab kitab Tauhid.

    Yang tersirat dari kisah mereka adalah tentang kesabaran tanpa batas dalam menanti terkabulnya sebuah doa. Nikmati saja prosesnya. Nikmati setiap proses kehidupan ini dengan sabar dan sholat (begitu seorang kawan)

    Akan ada batas waktunya dimana doa itu akan terkabul. Yang perlu kita yakini adalah bhwa setiap jawaban doa adalah “iya”

    Ibnu Qoyyim pernah megatakan, “Doa itu ibarat panah yang dilesatkan ke langit. Tapi untuk mencapai ke langit ia butuh waktu”
    .
    .
    .
    Hari ini Jum'at, perbanyaklah berdoa. Mintalah pada Allah dengan sabar dan sholat..
    .
    .
    .
    Surabaya || 09.01 || 12.08.2016 || @andromedanisa

    andromedanisa

    Dua tahun sudah menuliskan ini, apa kabar doa-doamu sayang? Semoga tak menyurutkan harap dan kesungguhanmu dalam berdoa kepadaNya ya. Jangan terburu-buru, doa itu akan Allah kabulkan dengan ketetapan yang baik..:“))

    Teruji dengan musibah, satu hal.

    Teruji dengan nikmat pun, satu hal juga.

    Bila Allah beri sesuatu nikmat pada kita, jangan cepat sangat lega.

    Apatah lagi mahu berbangga-bangga.

    Jangan!

    Sebenarnya nikmat yang ada dalam genggaman kita tu macam bara.

    Akan membakar kalau kita pegang lama-lama.

    Bahaya kalau kita himpun saja-saja.

    So, pass it on !

    Apa yang kita dapat, beri pada orang lain juga.

    Kongsi.

    Itulah tanda kita mensyukuri rezeki.

    Itulah cara kita melindungi diri daripada penyakit-penyakit hati.

    Harta banyak-banyak nak bawa ke mana?

    Anak hebat-hebat nak dibanggakan apa?

    Ujian semua tu.

    Ujian dalam bentuk nikmat dan rezeki.

    Kena rasa takut-takut mengendalikannya sama macam takutnya kita menggenggam bara api.

    Ngeri!

    Takut terbakar diri.

    Seluruh kehidupan ini adalah ujian.

    Hati-hati.

    Selamat malam semua

    SYARIAT, TARIKAT, HAKIKAT, MA'RIFAT.

    1. Syariat itu Afa'al Allah.

    2. Tarikat itu Isma Allah.

    3. Hakikat itu Sifat Allah.

    4. Ma'rifat itu Zat Allah.

    YAKIN.

    1. Syariat itu ilmu Yakin.

    2. Tarikat itu Ainul Yakin

    3. Hakikat itu Hakkul Yakin.

    4. MA'RIFAT itu Akmal Yakin.

    ZAHIR, BATIN, AWAL, AKHIR.

    1. Syariat itu Zahir.

    2. Tarikat itu Batin.

    3. Hakikat itu Akhir.

    4. Ma'rifat itu Awal.

    HUKUM.

    1. Syariat itu hukum Allah.

    2. Tarikat itu hukum Allah.

    3. Hakikat itu hukum Allah.

    4. Ma'rifat itu hukum Allah.

    DARIPADA NABI.

    1. Syariat itu perkataan Nabi.

    2. Tarikat itu perbuatan Nabi.

    3. Hakikat itu diri Nabi.

    4. Ma'rifat itu rahsia Nabi.

    ZIKIR.

    1. Zikir cara syariat itu dengan lidah.

    2. Zikir cara Tarikat itu dengan hati.

    3. Zikir cara Hakikat itu dengan nyawa.

    4. Zikir cara Ma'rifat itu dengan rahsia.

    PEKERJAAN.

    1. Pekerjaan syariat itu yang di katakan oleh lidah dan dikerjakan oleh hati.

    2. Pekerjaan Tarikat itu hati yang mengerjakan baik atau jahat.

    3. Pekerjaan Hakikat itu nyawa yang mengerjakan baik atau jahat.

    4. Pekerjaan Ma'rifat itu rahsia yang mengerjakan baik atau jahat.

    RUMAH.

    1. Rumah Syariat itu lidah.

    2. Rumah Tarikat itu hati.

    3. Rumah Hakikat itu budi.

    4. Rumah Ma'rifat itu Roh.

    ADAB.

    1. Adab orang-orang Syariat itu, orang-orang yang berdiri dengan tanda-tanda kenyataan.

    2. Adab orang-orang Tarikat itu, orang yang zikir tanpa tanda, hanya kurnia Allah.

    3. Adab Hakikat itu orang-orang yang tahu haknya dan hak Allah.

    4. Adab Ma'rifat itu orang-orang yang mengatahui perkataan dan Makam.

    SEMBAHYANG.

    1. Sembahyang orang-orang Syariat itu tubuhnya yang disembahnya pada Allah.

    2 Sembahyang orang-orang Tarikat itu hatinya yang menyembah Allah.

    3. Sembahyang orang-orang Hakikat itu nyawanya yang menyembah Allah.

    4. Sembahyang orang-orang Ma'rifat itu Wahdatul Ujud yang menerima sembahyang, maka itulah sembahyang Nabi-nabi, Wali-wali Allah, Ahli-ahli Sufi dan orang-orang yang Kamil dan Mukamil.

    PINTU.

    1. Pintu Syariat itu mulut.

    2. Pintu Tarikat itu dua lubang hidungnya.

    3. Pintu Hakikat itu dua biji matanya.

    4. Pintu Ma'rifat itu di antara mata putih dengan mata hitam.

    MARTABAT.

    1. Martabat Syariat itu Alam Roh.

    2. Martabat Tarikat itu Alam Malakul.

    3. Martabat Hakikat itu Alam Jabarut.

    4. Martabat Ma'rifat itu Alam Lahir.

    TUJUAN.

    1. Tujuan Syariat itu supaya hatinya ada Nur.

    2. Tujuan Tarikat itu supaya dirinya dan nyawanya jadi mulia.

    3. Tujuan Hakikat itu supaya memisahkan di antara Hak dengan Batil.

    4. Tujuan Ma'rifat itu supaya dapat darjat Saddikin.

    -URMH

    PINTU-PINTU MENUJU ALLAH

    Berapa banyak Ruh Allah yang menjadi sia-sia didalam Jasad kerana mereka tidak mahu memasuki Pintu-Pintu Menuju Allah dengan beragam alasan?

    Padahal mereka adalah orang-orang yang taat, bahkan taqwanya sangat istiqomah. Namun semuanya menjadi sia-sia kerana mereka tidak mahu melewati ujian demi ujian dalam memasuki Pintu-Pintu Menuju Allah.

    Mereka sudah merasa bersama Allah, padahal sedikit pun mereka belum menuju Allah.

    Maka alangkah beruntungnya kita, dan sungguh keberuntungan yang berlipat-lipat, jika Jasad kita sudah Jasad Allah, Ruh kita sudah Ruh Allah, dan kita pun berhasil lulus dari ujian demi ujian Allah, terutama lulus dalam ujian memasuki Pintu-Pintu Menuju Allah.

    BILA AKU JATUH CINTA

    Allahu Rabbi aku minta izin

    Bila suatu saat aku jatuh cinta

    Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang

    Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

    Allahu Rabbi

    Aku punya pinta

    Bila suatu saat aku jatuh cinta

    Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas

    Biar rasaku pada-Mu tetap kemas

    Allahu Rabbi

    Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta

    Pilihkan untukku sesaorang yang hatinya penuh dengan

    kasih-Mu

    dan membuatku semakin mengagumi-Mu

    Allahu Rabbi

    Bila suatu saat aku jatuh hati

    Pertemukanlah kami

    Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

    Allahu Rabbi

    Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati

    Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku

    Anugerahkanlah aku cinta-Mu…

    Cinta yang tak pernah pupus oleh ruang dan waktu.

    HAKIKAT FATIHAH

    Ia Menyatakan DIRI

    BISMILLAH…………..Menjadi ia diriNya AR-RAHMAN itu Ya Muhammad , engkau jua keadaan YA RAHIM itu. Ya Muhammad engkaulah kekasihKu. Tiada yang lain.

    ALHAMDULULLAH…….

    Ya Muhammad yang membaca Fatihah itu Aku. Yang memuji itu pun Aku. Alhamdulillah itu Ya Muhammad Solatmu ganti SolatKu tempat memuji DiriKu sendiri.

    RABBUL ALAMIN…………….

    Rabbul Alamin itu Aku Tuhan Sekalian Alam.

    AR RAHMAN – AR – RAHIM………..

    Ya Muhammad yang membaca Ftihah itu Aku yang Memuji itu pun Aku juga.

    MALIKIYAU MID DIIN…………..

    Ya Muhammad Aku Raja Yang Maha Besar…engkaulah kerajaannya.

    IYYA KANA’ BUDU…………….

    Ya Muhammad yang solat itu Aku. Aku memuji DiriKu Sendiri..

    WA IYYA KAA NAS TAA IIN….

    Ya Muhammad tiada kenyataanKu jika engkau tiada…

    IH DI NAS SII RATAL MUSTAAQIM…

    Ya Muhmammad Awal dan Akhir itu Aku

    SIRATAL LAZI NA AN AM TA ALAI HIM..

    Ya Muhammad sebab Aku sukakan engkau ialah engkau itu kekasihKu.

    GHAI RIL MAGHDU BI ALAI HIM..

    Ya Muhammad Aku jadi Pemurah padamu kerana engkau itu kekasihKu

    WA LAD DHAL LIN…

    Ya Muhammad jika tiada Aku maka tiadalah engkau..

    AMIN..

    Ya Muhammad Rahsiamu itu Rahsia Aku.

    Yakni yang disembah itu tiada suatu jua pun didalamnya melainkan Tuhanku. Maka apabila Solat ghaiblah didalamnya . Apabila ghaib ESA-lah ia dengan Tuhannya.

    Yang Solat itu tiada dengan lafaz dan maknanya dengan citarasa yang solat amat rapat kepada Zat Yang Esa dengan kata ALLA HU AKBAR.

    Maka barang siapa masuk didalam Solat tiada SERAH Tubuh dan Nyawa-nya maka kekallah Sifat dengan Tuhannya – tiada mengesakan dirinya dengan Tuhannya. Sabda Nabi saw :-

    Tatkala kamu Takbiratul Ihram membuangkan lafaz dan makna melainkan Wujud Mutlak semata-mata.

    MENGENAL DIRI SEBENAR DIRI

    Untuk pengetahuan semua, yang di katakan “Diri” itu sebenarnya mendatang kemudian dari Roh, atau dengan lain perkataan “Diri” ialah perkembangan Roh di dalam jasad.

    Ini membawa erti bahawa setelah Roh memasukki jasad, perkembangan nya yang berupa cahaya memenuhi seluruh dalaman jasad, dan ini lah dia “Diri” sebenar “Diri” dan “Diri” ini lah yang harus di kenal, bagaimana kah dia dan terdiri dari apa kah dia.

    Perumpamaan yang mudah, ibaratkan satu bulb lampu di dalam bilik, bulb itu Roh dan cahaya yang menerangi bilik itu lah dia “Diri”. Dan tentu nya cahaya tadi memenuhi ruang bilik tersebut dan bentuk cahaya itu pasti nya sama dengan bentuk bilik tersebut. Sekira nya ia empat segi nescaya cahaya tadi akan juga membentuk empat segi dan begitu lah sekiranya pada bentuk bentuk yang lain.

    Jadi disini faham lah kita bahawa cahaya yang terhasil dari Roh tadi telah berkembang ke seluruh anggota dalam jasad kita hingga ia membentuk rupa dan keadaan yang sama dengan jasad cuma beza nya ialah jasad terdiri dari daging dan tulang dan Diri dari asalnya cahaya Roh. Cahaya ini berupa aliran letrik yang mengaliri di setiap urat dan saraf jasad kasar kita ini.

    Untuk mengenalnya kita harus lah lahirkan cahaya diri ini keluar kerana batas nya dengan dunia luar hanyalah kulit kita ini.

    Bagaimana harus melahirkan nya dan merasakan akan aliran cahaya itu di setiap bahagian tubuh kita.

    Pada dasarnya ada 3 cara ia nya lahir:

    1. Terlahir dengan sendirinya, (selalunya pada mereka yang mengamalkan zikir yang berterusan)

    2. Mencuba melahirkan nya sendiri

    3. Dilahirkan oleh Guru atau mereka mereka yang telah banyak pengalaman.

    Melahirkan nya bermakna melahirkan cahaya itu keluar dari dalam jasad kita sendiri dan kita akan dapat merasakan nya, dengan nya akan lahir nya cahaya itu. (Ini perkara benar yang tidak dapat dinafikan oleh mereka mereka yang telah di bukakan Diri mereka itu)

    Apabila terbuka Diri sebenar Diri ini maka akan ternyatalah akan rahsia Dia dan dia lah akan kita kemukakan dalam apa juga tindakan dan perbuatan, dia tahu kerana dia datang dari yang Maha Tahu, Dia kuat kerana Dia datang dari yang Maha Kuat, Beriman dengan Iman yang tidak Goyah, dan lain lain………….

    RAHSIA MEMATIKAN DIRIMU SEBELUM MATI

    ‘Matikan dirimu sebelum kamu mati’.

    Maka mati yang pertama itu seolah-olah bercerai ruh dari jasad, tiada daya upaya walau sezarah jua pada hakikatnya, hanya Allah jua yang berkuasa, kamudian dimusyahadahkan didalam hati dengan menyaksikan kebesaran iaitu sifat Jalal dan JamalNya dan kesucianNya. Maka mati diri sebelum mati itu ialah dengan memulangkan segala amanah Allah iaitu tubuh jasad ini kepada yang menanggung amanah iaitu ruhaniah jua.

    Ditarikkan ‘nafas’ itu dengan hakikat memulangkan dzat, sifat, afaal kita kepada Dzat, Sifat, Afaal Allah yang bererti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang bathin (Ruh). Dan pulangkan wujud Ruh pada hakikatnya kepada Wujud Yang Qadim.

    Maka selepas sempurna ‘mematikan diri yang pertama’ hendaklah melakukan ‘mikraj’ iaitu ‘mematikan diri peringkat kedua’ yang dinamakan mati maknawi, iaitu hilang segala sesuatu didalam hatimu malainkan hanya berhadap pada Allah jua. Dengan meletakkan nafas kita melalui alam ‘ampas’ iaitu antara dua kening merasa penuh limpah dalam alam kudus kita iaitu dalam kepala kita hingga hilang segala ingatan pada yang lain melainkan hanya hatimu berhadap pada Allah jua.

    ‘Mati pada peringkat ketiga’ adalah mati segala usaha ikhtiar dan daya usaha diri kerana diri kita ini tidak boleh melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri sebab manusia itu sebenarnya memiliki sifat ‘Fakir, Dhaif, lemah dan hina’. Dinaikkan ‘tanafas’ hingga ditempatkannya dengan sempurna di ‘nufus’ dengan melihat pada matahati itu dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah.

    Dari Allah mengerakkan Ruhaniah, dari ruhaniah mengerakkan Al-Hayat, dari al-hayat mengerakkan Nafas, dari nafas mengerakkan Jasad dan pada hakikatnya itu Allah jualah yang mengerakkan sekeliannya. Pada pandangan dzahir perbuatan hamba tetapi pada pandangan matahati perbuatan Allah jua. Maka Syuhud akan Allah pada Niat dan segala gerak dan diamnya sebagaimana firmanNya,

    “Dan tiadalah yang melontar oleh engkau ya Muhammad ketika engkau melontar tetapi Allah yang melontar………” .